Jakarta – Pendidikan kesehatan reproduksi bagi anak dengan hambatan intelektual masih menjadi tantangan di Indonesia. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap perlindungan anak berkebutuhan khusus, pembelajaran mengenai cara merawat organ reproduksi secara mandiri masih belum banyak didukung oleh media yang sesuai dengan karakteristik belajar mereka. Materi yang disampaikan di sekolah umumnya masih bersifat teoritis, sementara anak dengan hambatan intelektual membutuhkan pembelajaran yang konkret, visual, bertahap, dan dilakukan secara berulang agar dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi tersebut mendorong tim peneliti dari Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengembangkan Game Edukatif RATU (Rawat Tubuhku) sebagai media pembelajaran kesehatan reproduksi yang dirancang khusus bagi anak dengan hambatan intelektual. Penelitian ini diketuai oleh Dr. Septiyani Endang Yunitasari, M.Pd., bersama anggota peneliti Prof. Dr. Asep Supena, M.Psi., Dr. Hartini Nara, M.Si., Dr. Suprihatin, S.Pd., M.Ed., Ed.D., Rohmah Ageng Mursita, M.Pd., dan Wahyu Hardiani, M.Pd., serta melibatkan mahasiswa Nur Zahra Aqilla Purwanti dan Nahla Hayaatun Nufus.
Pengembangan Game Edukatif RATU berangkat dari kenyataan bahwa anak dengan hambatan intelektual memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap berbagai persoalan kesehatan reproduksi. Keterbatasan fungsi kognitif membuat mereka lebih sulit memahami konsep abstrak, mengingat langkah-langkah perawatan diri, hingga menerapkan kebiasaan menjaga kebersihan organ reproduksi secara mandiri. Akibatnya, mereka tidak hanya berisiko mengalami gangguan kesehatan, tetapi juga lebih rentan menjadi korban kekerasan seksual karena kurang memahami batasan tubuh dan cara melindungi diri.
Melalui Game Edukatif RATU, proses belajar tidak lagi sekadar mengenalkan teori tentang kesehatan reproduksi, tetapi juga melatih keterampilan bina diri yang dapat dipraktikkan secara langsung. Media ini dirancang dengan pendekatan visual, interaktif, dan berbasis aktivitas sehingga anak dapat belajar melalui pengalaman yang menyenangkan sesuai dengan karakteristik belajarnya. Setiap aktivitas dalam permainan disusun secara bertahap agar anak mampu memahami urutan perawatan organ reproduksi, membangun kebiasaan menjaga kebersihan diri, serta meningkatkan kemandirian dalam kehidupan sehari-hari.
Keunggulan Game Edukatif RATU terletak pada konsep pembelajaran fungsional yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan perilaku. Melalui simulasi dan latihan yang dilakukan secara berulang, anak diajak mempraktikkan keterampilan perawatan organ reproduksi dalam situasi yang menyerupai kondisi nyata. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu anak lebih mudah mengingat, memahami, dan menerapkan keterampilan tersebut secara mandiri.

Selain bermanfaat bagi peserta didik, Game Edukatif RATU juga diharapkan menjadi media pendukung bagi guru dan orang tua dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi. Selama ini, banyak guru maupun orang tua mengaku mengalami kesulitan menjelaskan materi tersebut karena keterbatasan media pembelajaran yang sesuai dan masih adanya anggapan bahwa pembahasan kesehatan reproduksi merupakan topik yang sensitif. Kehadiran game edukatif ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran yang lebih mudah digunakan, aman, dan komunikatif sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara lebih efektif.
Tidak hanya sebagai media belajar, Game Edukatif RATU juga menjadi inovasi yang mendukung pendidikan inklusif melalui pemanfaatan teknologi pembelajaran. Dengan menggabungkan unsur permainan, visualisasi, dan latihan keterampilan, media ini diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar anak sekaligus membantu mereka membangun kemandirian dalam menjaga kesehatan reproduksi sejak dini. Inovasi ini menjadi salah satu upaya Universitas Negeri Jakarta dalam menghadirkan solusi pendidikan yang adaptif, aplikatif, dan berdampak langsung bagi peningkatan kualitas hidup anak dengan hambatan intelektual.











