Kolom

Saat Inisiatif dan Inovasi Menurun, Apa yang Sebenarnya Hilang dari Tempat Kerja?

Redaksi
×

Saat Inisiatif dan Inovasi Menurun, Apa yang Sebenarnya Hilang dari Tempat Kerja?

Sebarkan artikel ini
Saat Inisiatif Dan Inovasi Menurun, Apa Yang Sebenarnya Hilang Dari Tempat Kerja?
Saat Inisiatif Dan Inovasi Menurun, Apa Yang Sebenarnya Hilang Dari Tempat Kerja?

Muhammad Rizky, sebagai Mahasiswa S2 Magister Manajemen, Sekolah Pascasarjana Unilak, sekaligus pegawai di salah satu BUMN, menyampaikan bahwa pengalaman di tempat kerja sering memberi pelajaran penting tentang bagaimana organisasi dikelola. Ia mengaku, bimbingan Dr. Richa Afriana Munthe, S.E., M.M. membantunya melihat persoalan secara lebih akademik dan tidak emosional.

“Isu yang saya angkat berkaitan dengan kinerja karyawan dan motivasi kerja. Dalam pengamatan saya, persoalannya terlihat dari menurunnya inisiatif, antusiasme, dan partisipasi pegawai. Dari sisi kinerja, penurunan ini tampak pada kualitas kerja yang melemah dan kurangnya inovasi,” katanya. Ia menegaskan bahwa isu ini perlu disampaikan dengan bahasa yang hati-hati, karena tujuan utamanya bukan mencari kesalahan, melainkan mencari jalan perbaikan.

Menurut Muhammad Rizky, akar masalahnya berkaitan dengan lingkungan kerja, apresiasi, dan pengembangan SDM. Faktor-faktor tersebut memengaruhi motivasi, rasa percaya diri, disiplin, loyalitas, dan kesiapan pegawai untuk memberikan kinerja terbaik. Jadi, persoalan ini perlu dilihat sebagai rangkaian sebab-akibat di dalam organisasi.

Dari kondisi itu, dampak yang muncul adalah menurunnya disiplin, loyalitas, rasa percaya diri, kualitas kerja, dan dorongan untuk berinovasi.

Untuk memperkuat gagasannya, Muhammad Rizky mengaitkan persoalan tersebut dengan Social Exchange Theory, Self-Determination Theory, dan Organizational Justice Theory. Social Exchange Theory menjelaskan bahwa dukungan dan manfaat dari organisasi dapat mendorong pegawai membalas dengan motivasi serta kinerja yang lebih baik. Self-Determination Theory menekankan pentingnya kebutuhan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan dalam membangun motivasi internal. Organizational Justice Theory menjelaskan bahwa persepsi keadilan dalam penghargaan, prosedur, komunikasi, dan perlakuan organisasi berpengaruh terhadap motivasi serta kinerja pegawai.

Mengenai solusi yang paling realistis, Muhammad Rizky menjawab bahwa perbaikan harus dilakukan secara bertahap. “Saya melihat solusinya adalah memperbaiki komunikasi, memperjelas SOP, memperkuat kompetensi SDM, membangun kolaborasi, dan melakukan evaluasi berbasis data. Yang penting, solusi itu dijalankan dengan komunikasi yang baik, tidak memojokkan siapa pun, dan bisa diterima oleh orang-orang yang terlibat di dalam organisasi,” ungkapnya.

Dr. Chandra, S.T., M.M., sebagai masyarakat, praktisi, dan peneliti ilmu manajemen, menilai bahwa gagasan Muhammad Rizky penting karena menghubungkan motivasi, rasa keadilan, dan kinerja pegawai. Ia menyarankan agar uraian tersebut diperkuat dengan indikator motivasi, bentuk apresiasi yang diterima pegawai, serta perubahan kinerja yang dapat diamati. Dengan demikian, solusi yang ditawarkan dapat diarahkan pada sistem penghargaan dan pengembangan SDM yang lebih adil, terukur, dan membangun kepercayaan pegawai.

* Referensi : Social Exchange Theory; Self-Determination Theory; Organizational Justice Theory

Oleh: Muhammad Rizky
NIM: 2561101157