News

10 Tips Ngonten ala Santi Wulandari, S.E, dari Membuat Hook Menarik hingga Membangun Ciri Khas Kreator

Redaksi
×

10 Tips Ngonten ala Santi Wulandari, S.E, dari Membuat Hook Menarik hingga Membangun Ciri Khas Kreator

Sebarkan artikel ini
10 Tips Ngonten ala Santi Wulandari, S.E, dari Membuat Hook Menarik hingga Membangun Ciri Khas Kreator

Di tengah persaingan konten digital yang semakin ramai, kreator dituntut untuk terus menghadirkan ide segar agar videonya menarik perhatian penonton. Mulai dari menentukan konsep, menyusun kalimat pembuka, hingga mengemas video agar mudah dinikmati, setiap proses memiliki peran dalam membangun konten yang menarik.

Santiechan, kreator konten asal Kepulauan Bangka Belitung yang aktif membuat konten sejak 2021, menggeluti berbagai tema, mulai dari kecantikan, kuliner, vlog, hingga konten kreatif di rumah pohon. Pengalamannya mengembangkan berbagai jenis konten dapat menjadi inspirasi bagi kreator pemula yang ingin mengeksplorasi gaya mereka sendiri.

Lantas, apa saja tips ngonten yang bisa diterapkan? Berikut 10 kiat yang dapat menjadi panduan bagi kreator digital.

1. Mulai video dengan hook yang bikin penasaran

Bagian awal video merupakan kesempatan untuk menarik perhatian penonton. Karena itu, kreator bisa memulai dengan pertanyaan unik, kejadian tak terduga, atau kalimat yang membuat orang ingin mengetahui kelanjutannya.

Contohnya, daripada membuka video dengan kalimat, “Hai semuanya, hari ini aku mau unboxing,” kreator dapat mencoba, “AKU NGGAK NYANGKA ISI BLIND BOX INI BAKAL SEUNIK INI!”

Pembukaan tetap harus sesuai dengan isi video agar penonton tidak merasa tertipu oleh judul atau kalimat yang terlalu berlebihan. Panduan TikTok juga menyarankan penggunaan pembuka yang kuat dan visual yang jelas untuk menarik perhatian audiens.

2. Cari ide dari kegiatan sehari-hari

Ide konten tidak selalu harus berasal dari sesuatu yang besar. Kegiatan sederhana seperti mencoba makanan, merias wajah, membeli barang baru, mengunjungi tempat wisata, atau melakukan aktivitas di rumah dapat dikembangkan menjadi video.

Kuncinya adalah menemukan sudut pandang yang menarik. Kegiatan biasa bisa menjadi lebih seru ketika dikemas sebagai tantangan, eksperimen, cerita pengalaman, atau rekomendasi.

3. Punya ciri khas yang mudah dikenali

Ciri khas membantu penonton mengenali karakter sebuah akun. Hal tersebut dapat dibangun melalui gaya berbicara, ekspresi, jenis humor, cara bercerita, atau konsep visual yang konsisten.

Kreator tidak harus meniru gaya orang lain secara persis. Justru, menemukan karakter sendiri dapat membantu membangun identitas yang lebih autentik dan membedakan konten dari video kreator lainnya. Konsistensi identitas dan gaya komunikasi juga menjadi salah satu prinsip dalam panduan materi kreatif TikTok.

4. Manfaatkan keahlian pribadi sebagai bahan konten

Setiap orang memiliki kemampuan yang bisa dieksplorasi menjadi konten. Salah satunya adalah melukis wajah atau face painting, keterampilan yang dimiliki Santiechan berdasarkan informasi yang diberikan.

Keahlian seperti ini bisa dikembangkan menjadi video proses melukis, transformasi sebelum dan sesudah, eksperimen warna, atau tantangan membuat karakter tertentu.

Konten yang menampilkan proses kreatif memiliki unsur cerita tersendiri karena penonton dapat mengikuti perubahan dari tahap awal hingga hasil akhir. Namun, keberhasilan sebuah format tetap bergantung pada pelaksanaan dan respons audiens.

5. Buat storytelling yang punya awal, tengah, dan akhir

Video yang menarik bukan hanya berisi kumpulan gambar. Susunan cerita juga membantu penonton memahami apa yang sedang terjadi.

Salah satu pola sederhana yang bisa dicoba adalah:

Awal: Perkenalkan kejadian atau masalah yang menarik.

Tengah: Tampilkan proses, tantangan, atau pengalaman.

Akhir: Berikan hasil, kejutan, atau kesimpulan.

Misalnya, konten unboxing dapat dimulai dengan rasa penasaran terhadap isi produk, dilanjutkan dengan proses membuka kemasan, lalu ditutup dengan reaksi dan penilaian yang jujur.

6. Jangan terpaku pada peralatan mahal

Kreator pemula dapat memulai dengan perangkat yang sudah tersedia, seperti ponsel, tripod sederhana, dan pencahayaan alami. Hal yang lebih penting adalah memastikan objek terlihat jelas, suara cukup terdengar, dan gambar tidak terlalu goyang.

Sebelum membeli peralatan tambahan, kreator dapat berlatih mengambil gambar dari berbagai sudut, mengatur pencahayaan, dan membuat alur pengambilan video yang lebih efisien.

Dengan begitu, proses produksi bisa dimulai tanpa harus menunggu memiliki perlengkapan profesional.

7. Sesuaikan konsep dengan platform dan penonton

Setiap platform memiliki karakter penggunaan dan fitur yang berbeda. Karena itu, kreator perlu mempertimbangkan format video, kebiasaan audiens, serta cara penyampaian yang sesuai dengan platform tempat konten dipublikasikan.

Video pendek dapat menonjolkan satu ide utama, sedangkan video YouTube yang lebih panjang dapat memberi ruang untuk penjelasan dan cerita yang lebih mendalam.

Kreator juga dapat mempelajari analitik akun untuk melihat video mana yang lebih banyak ditonton, bagian mana yang membuat penonton berhenti, dan topik apa yang mendapat respons paling baik. YouTube menyediakan panduan strategi konten dan alat analitik untuk membantu kreator memahami performa kanalnya.

8. Konsisten, tetapi tetap utamakan kualitas

Konsistensi membantu kreator menjaga aktivitas akun dan melatih kemampuan produksi. Namun, konsistensi tidak berarti harus memaksakan diri mengunggah video setiap saat.

Kreator bisa membuat jadwal yang realistis, menyimpan daftar ide, dan merekam beberapa materi dalam satu sesi jika memungkinkan. Jadwal tersebut kemudian dapat disesuaikan dengan waktu, tenaga, dan hasil evaluasi konten.

Lebih baik memiliki pola kerja yang bisa dipertahankan daripada membuat banyak video sekaligus tetapi kesulitan menjaga kualitasnya.

9. Bangun interaksi dengan penonton

Interaksi dengan penonton dapat membantu kreator memahami minat audiens sekaligus menemukan ide baru. Kreator dapat mengajukan pertanyaan yang relevan, membalas komentar, atau membuat video lanjutan berdasarkan pertanyaan yang sering muncul.

Contohnya, setelah mengunggah video unboxing, kreator dapat bertanya, “Menurut kalian, blind box mana yang paling lucu buat dikoleksi?”

Ajakan interaksi sebaiknya terasa alami dan berhubungan dengan isi video. Tidak semua video akan memperoleh respons yang sama, sehingga hasilnya perlu dievaluasi dari waktu ke waktu.

10. Evaluasi konten dan berani mencoba hal baru

Membuat konten juga merupakan proses belajar. Kreator dapat membandingkan performa video berdasarkan topik, pembukaan, durasi, penyajian, serta respons penonton.

Jika suatu konsep belum mendapatkan hasil yang diharapkan, bukan berarti seluruh ide harus ditinggalkan. Kreator bisa mencoba pembukaan berbeda, memperjelas pesan utama, memperbaiki suara, atau menyederhanakan alur cerita.

Eksperimen yang dilakukan secara bertahap membantu kreator memahami format yang sesuai dengan karakter dan audiensnya. Tidak ada formula yang menjamin setiap video viral, tetapi proses evaluasi dapat membantu pengembangan konten menjadi lebih terarah.